BELAJAR CINTA DARI ALI DAN FATIMAH
Inspiring Story by Abiummi.com
(#LetsTalkAboutHijab). Dalam
kisah islami berikut diceritakan bahwa ada suatu rahasia dalam hati Ali bin Abi
Thalib yang sangat ia jaga. Ia tutup rapat-rapat rahasia tersebut dan tak
menceritakannya kepada siapa pun, yakni rasa kagumnya pada Fatimah, putri
Rasulullah. Ali mengenal Fatimah sejak lama sebab mereka berdua adalah teman
karib dari kecil. Namun, antara keduanya saling menjaga diri. Kita dapat
belajar cinta dari kisah islami Ali bin Abi Thalib ini.
Bagi
Ali, Fatimah adalah sosok wanita yang mengagumkan. Fatimah tak hanya
memiliki paras yang cantik, tetapi juga memiliki akhlak yang baik. Kesalehan
dan rasa bakti yang tinggi kepada Rasulullah dari diri Fatimah benar-benar
mampu memesona Ali. Suatu ketika, Rasulullah menghampiri Fatimah dengan luka
yang memercik darah dan kepala yang dilumuri isi perut unta. Fatimah geram, ia
bersihkan luka-luka itu dengan hati yang teriris. Setelah ia mengetahui bahwa
itu adalah perbuatan kaum Quraisy, ia tak lantas takut, tetapi dengan berani ia
pergi menuju Kabah dan menghardik para kaum Quraisy. Ini adalah bentuk
keberanian yang ada dalam diri Fatimah yang membuat Ali bin Abi Thalib kagum.
Berkaitan
dengan cinta, dalam kisah islami dikisahkan bahwa Ali bin Abi Thalib sendiri
pun tidak mengetahui dengan pasti perasaan seperti itu bisa disebut sebagai
cinta atau tidak. Sampai suatu ketika, ia mendengar kabar yang membuatnya
terkejut tentang Fatimah yang akan dilamar oleh Abu Bakar Ash Shiddiq.
Apakah Ali Merasa Putus Asa?
Ali
merasa bahwa ia sedang diuji. Ali berpikir bahwa ia tak dapat dibandingkan
dengan Abu Bakar. Abu Bakar ialah lelaki yang iman dan akhlaknya tak dapat
diragukan. Lelaki yang rela membela Islam dengan harta dan jiwanya. Abu Bakar
menjadi teman Nabi dalam perjalanan hijrah, sementara Ali hanya bertugas untuk
menggantikan beliau menanti maut di ranjangnya. Dalam dakwah, banyak tokoh
bangsawan dan saudagar Mekah yang masuk Islam karena ikhtiar Abu Bakar. Dari
segi finansial, banyak budak muslim yang telah dibebaskan dan para fakir yang
telah dibela oleh Abu Bakar. Namun, Ali? Dari banyak sisi, Abu Bakar dapat
melakukan hal-hal yang belum bisa ‘Ali lakukan. Dengan demikian, insya Allah
akan lebih bisa membahagiakan Fatimah, pikirnya.
Menurut
pemikiran Ali, ia hanyalah pemuda miskin dari keluarga miskin yang tak dapat
disejajarkan dengan Abu Bakar. “Inilah persaudaraan dan cinta. Aku mengutamakan
Abu Bakar atas diriku dan aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas
cintaku,” gumam Ali dalam hati.
Ali Kembali Semangat
Setelah
beberapa waktu berlalu, Ali mendengar kabar yang membuat hatinya bahagia.
Tunas-tunas harapan di hatinya yang sempat layu setelah mendengar kabar itu
kini dapat tumbuh kembali. Kabar bahwa ternyata Rasulullah menolak lamaran Abu
Bakar. Lalu, apa yang Ali lakukan? Ali terus menjaga semangatnya dalam
mempersiapkan dan memantaskan diri agar bisa melamar Fatimah kelak. Tentu saja,
lagi-lagi kita dapat belajar cinta dari kisah islami Ali bin Abi Thalib yang
satu ini. Berjuang memperbaiki diri adalah salah satu cara yang tepat dalam
pemantasan diri.
Kali Ini Giliran Umar Al-Faruq!
Selanjutnya,
apa yang terjadi? Lagi-lagi kesungguhan Ali diuji. Setelah Abu Bakar, datang
lagi seorang laki-laki yang melamar Fatimah. Lelaki yang memiliki perangai yang
gagah dan perkasa. Lelaki yang setelah keislamannya berhasil membuat kaum
muslimin berani mengangkat muka mereka dengan tegak dan lelaki yang membuat para
setan berlari karena takut akan dirinya. Ia adalah Umar bin Khattab, salah satu
orang terdekat Nabi. Mengetahui
hal ini, lagi-lagi Ali merasa bahwa dirinya tak sepadan dan tak dapat
disejajarkan dengannya. Umar bin Khattab adalah salah seorang yang sangat dekat
dengan Nabi. Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi mengatakan, “Aku
datang bersama Abu Bakar dan Umar. Aku keluar bersama Abu Bakar dan Umar. Aku
masuk bersama Abu Bakr dan Umar ….” Ini membuktikan betapa tinggi kedudukannya
di sisi Nabi, di sisi ayah Fatimah.
Ketika
berhijrah, Umar berjalan mendampingi Nabi, kemudian Ia tawaf tujuh kali dan
naik ke atas Kabah. “Wahai, Quraisy! Hari ini putera Al Khattab akan berhijrah.
Barang siapa yang ingin istrinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya
berkabung tanpa henti, silakan hadang Umar di balik bukit ini!” kata Umar.
Berbeda dengan Umar, Ali hanya menyusul sang Nabi dengan sembunyi agar selamat
dari kejaran musuh. Sangat berbeda. Ali tersadar jika melihat dari segala sisi,
ia pemuda yang belum siap menikah, terlebih menikahi Fatimah. Menurutnya, Umar
jauh lebih layak dan Ali ridha.
Ali Kembali Bersemangat
Namun,
kemudian terdengar kabar bahwa lamaran Umar pun ditolak. Mendengar kabar itu,
Ali hanya bisa merenung. Menantu seperti apakah yang sebenarnya diinginkan oleh
Rasulullah. Apakah seperti dua menantu yang telah dimiliki Rasulullah? Utsman
yang memiliki banyak harta atau Abul ’Ash ibn Rabi’kah saudagar Quraisy?
Kriteria menantu yang membuat Ali semakin kehilangan kepercayaan dirinya.
“Mengapa
engkau tak mencoba melamar Fatimah? Aku punya firasat, engkaulah yang
ditunggu-tunggu baginda Nabi ….” pertanyaan dari teman ansar menyadarkan
Ali dari lamunan.
“Aku?
Aku hanyalah pemuda yang miskin. Apa yang bisa kuandalkan?” tanya Ali tak
yakin.
“Tenang
saja. Kami di belakangmu! Semoga Allah menolongmu!” jawab teman-teman ansar.
Setelah
itu, Ali berpikir, “Aku akan diam saja, sementara kesempatan sudah di depan mata
atau meminta Fatimah untuk menantikanku di batas waktu dan menunguku hingga
sekitar dua atau tiga tahun sampai aku siap?”
“Ah,
itu kekanak-kanakan dan memalukan,” pikirnya. Tak lama, Ali pun memberanikan
dirinya untuk menghadap sang Nabi. Ia menyampaikan keinginannya untuk menikahi
Fatimah, walaupun ia sadar diri bahwa secara finansial tak ada yang menjanjikan
pada dirinya. Ia hanya memiliki satu set baju besi dan persediaan tepung kasar
untuk makannya.
“Ahlan wa sahlan! Engkau
pemuda sejati wahai, Ali!” Rasulullah berkata dengan senyuman di wajahnya.
Ali
ialah Pemuda yang siap bertanggung jawab atas cintanya. Pemuda yang siap
memikul risiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha
Kaya.
Dengan
jawaban itu, Ali merasa bingung. Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa
dikatakan sebagai isyarat sebuah penerimaan atau penolakan. Pikirnya, mungkin
Nabi bingung untuk memberikan jawaban. Jika itu sebuah penolakan, ia siap
karena itu sudah menjadi resikonya.
“Bagaimana jawaban Nabi, Kawan? Bagaimana lamaranmu?” tanya kawan Ali.
“Bagaimana jawaban Nabi, Kawan? Bagaimana lamaranmu?” tanya kawan Ali.
“Entahlah.
Menurut kalian apakah ‘ahlan
wa sahlan‘ berarti sebuah jawaban?” tanya Ali dengan wajah
bingung.
”Satu
kata saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Kau
mendapatkan ahlan wa sahlan,
Kawan! Dua-duanya berarti ya!” jawab kawan-kawan Ali.
Ali
pun akhirnya menikahi Fatimah dengan menggadaikan baju besinya.
Ternyata,
dalam kisah islami ini diceritakan tentang hal yang dilakukan oleh putri sang
Nabi saat ia menjaga dirinya. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari
(setelah mereka menikah) Fatimah berkata kepada, “Ali, maafkan aku karena
sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang
pemuda.”
Ali
terkejut dan berkata, “Kalau begitu, mengapa engkau mau menikah denganku? Lalu,
siapakah pemuda itu?”
Sambil
tersenyum, Fatimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah dirimu.”
Selengkapnya di : http://abiummi.com/belajar-cinta-dari-kisah-islami-ali-bin-abi-thalib/
Selengkapnya di : http://abiummi.com/belajar-cinta-dari-kisah-islami-ali-bin-abi-thalib/





