Syar'i on Kampar Heritage Exploring

Location : Kampar Regency, Riau Province, Indonesia
 Up to Down : Armalaa's Collection
Taken by : Nurjamaliah
Camera : VIVO Y15
 Creative : ETIKA & ESTETIKA photo Concept
Ideas : Just hunted your own Heritage

BELAJAR CINTA DARI ALI DAN FATIMAH
Inspiring Story by Abiummi.com







(#LetsTalkAboutHijab). Dalam kisah islami berikut diceritakan bahwa ada suatu rahasia dalam hati Ali bin Abi Thalib yang sangat ia jaga. Ia tutup rapat-rapat rahasia tersebut dan tak menceritakannya kepada siapa pun, yakni rasa kagumnya pada Fatimah, putri Rasulullah. Ali mengenal Fatimah sejak lama sebab mereka berdua adalah teman karib dari kecil. Namun, antara keduanya saling menjaga diri. Kita dapat belajar cinta dari kisah islami Ali bin Abi Thalib ini.

Bagi Ali, Fatimah adalah sosok wanita yang mengagumkan. Fatimah tak hanya memiliki paras yang cantik, tetapi juga memiliki akhlak yang baik. Kesalehan dan rasa bakti yang tinggi kepada Rasulullah dari diri Fatimah benar-benar mampu memesona Ali. Suatu ketika, Rasulullah menghampiri Fatimah dengan luka yang memercik darah dan kepala yang dilumuri isi perut unta. Fatimah geram, ia bersihkan luka-luka itu dengan hati yang teriris. Setelah ia mengetahui bahwa itu adalah perbuatan kaum Quraisy, ia tak lantas takut, tetapi dengan berani ia pergi menuju Kabah dan menghardik para kaum Quraisy. Ini adalah bentuk keberanian yang ada dalam diri Fatimah yang membuat Ali bin Abi Thalib kagum.

Berkaitan dengan cinta, dalam kisah islami dikisahkan bahwa Ali bin Abi Thalib sendiri pun tidak mengetahui dengan pasti perasaan seperti itu bisa disebut sebagai cinta atau tidak. Sampai suatu ketika, ia mendengar kabar yang membuatnya terkejut tentang Fatimah yang akan dilamar oleh Abu Bakar Ash Shiddiq.

 

Apakah Ali Merasa Putus Asa?

Ali merasa bahwa ia sedang diuji. Ali berpikir bahwa ia tak dapat dibandingkan dengan Abu Bakar. Abu Bakar ialah lelaki yang iman dan akhlaknya tak dapat diragukan. Lelaki yang rela membela Islam dengan harta dan jiwanya. Abu Bakar menjadi teman Nabi dalam perjalanan hijrah, sementara Ali hanya bertugas untuk menggantikan beliau menanti maut di ranjangnya. Dalam dakwah, banyak tokoh bangsawan dan saudagar Mekah yang masuk Islam karena ikhtiar Abu Bakar. Dari segi finansial, banyak budak muslim yang telah dibebaskan dan para fakir yang telah dibela oleh Abu Bakar. Namun, Ali? Dari banyak sisi, Abu Bakar dapat melakukan hal-hal yang belum bisa ‘Ali lakukan. Dengan demikian, insya Allah akan lebih bisa membahagiakan Fatimah, pikirnya.

Menurut pemikiran Ali, ia hanyalah pemuda miskin dari keluarga miskin yang tak dapat disejajarkan dengan Abu Bakar. “Inilah persaudaraan dan cinta. Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku dan aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku,” gumam Ali dalam hati.

 

Ali Kembali Semangat

Setelah beberapa waktu berlalu, Ali mendengar kabar yang membuat hatinya bahagia. Tunas-tunas harapan di hatinya yang sempat layu setelah mendengar kabar itu kini dapat tumbuh kembali. Kabar bahwa ternyata Rasulullah menolak lamaran Abu Bakar. Lalu, apa yang Ali lakukan? Ali terus menjaga semangatnya dalam mempersiapkan dan memantaskan diri agar bisa melamar Fatimah kelak. Tentu saja, lagi-lagi kita dapat belajar cinta dari kisah islami Ali bin Abi Thalib yang satu ini. Berjuang memperbaiki diri adalah salah satu cara yang tepat dalam pemantasan diri.

 

Kali Ini Giliran Umar Al-Faruq!

Selanjutnya, apa yang terjadi? Lagi-lagi kesungguhan Ali diuji. Setelah Abu Bakar, datang lagi seorang laki-laki yang melamar Fatimah. Lelaki yang memiliki perangai yang gagah dan perkasa. Lelaki yang setelah keislamannya berhasil membuat kaum muslimin berani mengangkat muka mereka dengan tegak dan lelaki yang membuat para setan berlari karena takut akan dirinya. Ia adalah Umar bin Khattab, salah satu orang terdekat Nabi. Mengetahui hal ini, lagi-lagi Ali merasa bahwa dirinya tak sepadan dan tak dapat disejajarkan dengannya. Umar bin Khattab adalah salah seorang yang sangat dekat dengan Nabi. Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi mengatakan, “Aku datang bersama Abu Bakar dan Umar. Aku keluar bersama Abu Bakar dan Umar. Aku masuk bersama Abu Bakr dan Umar ….” Ini membuktikan betapa tinggi kedudukannya di sisi Nabi, di sisi ayah Fatimah.

Ketika berhijrah, Umar berjalan mendampingi Nabi, kemudian Ia tawaf tujuh kali dan naik ke atas Kabah. “Wahai, Quraisy! Hari ini putera Al Khattab akan berhijrah. Barang siapa yang ingin istrinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang Umar di balik bukit ini!” kata Umar. Berbeda dengan Umar, Ali hanya menyusul sang Nabi dengan sembunyi agar selamat dari kejaran musuh. Sangat berbeda. Ali tersadar jika melihat dari segala sisi, ia pemuda yang belum siap menikah, terlebih menikahi Fatimah. Menurutnya, Umar jauh lebih layak dan Ali ridha.

 

Ali Kembali Bersemangat

Namun, kemudian terdengar kabar bahwa lamaran Umar pun ditolak. Mendengar kabar itu, Ali hanya bisa merenung. Menantu seperti apakah yang sebenarnya diinginkan oleh Rasulullah. Apakah seperti dua menantu yang telah dimiliki Rasulullah? Utsman yang memiliki banyak harta atau Abul ’Ash ibn Rabi’kah saudagar Quraisy? Kriteria menantu yang membuat Ali semakin kehilangan kepercayaan dirinya.
“Mengapa engkau tak mencoba melamar Fatimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu baginda Nabi ….” pertanyaan dari teman ansar menyadarkan Ali dari lamunan.
“Aku? Aku hanyalah pemuda yang miskin. Apa yang bisa kuandalkan?” tanya Ali tak yakin.
“Tenang saja. Kami di belakangmu! Semoga Allah menolongmu!” jawab teman-teman ansar.

Setelah itu, Ali berpikir, “Aku akan diam saja, sementara kesempatan sudah di depan mata atau meminta Fatimah untuk menantikanku di batas waktu dan menunguku hingga sekitar dua atau tiga tahun sampai aku siap?”
“Ah, itu kekanak-kanakan dan memalukan,” pikirnya. Tak lama, Ali pun memberanikan dirinya untuk menghadap sang Nabi. Ia menyampaikan keinginannya untuk menikahi Fatimah, walaupun ia sadar diri bahwa secara finansial tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Ia hanya memiliki satu set baju besi dan persediaan tepung kasar untuk makannya.
Ahlan wa sahlan! Engkau pemuda sejati wahai, Ali!” Rasulullah berkata dengan senyuman di wajahnya.
Ali ialah Pemuda yang siap bertanggung jawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul risiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.
Dengan jawaban itu, Ali merasa bingung. Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat sebuah penerimaan atau penolakan. Pikirnya, mungkin Nabi bingung untuk memberikan jawaban. Jika itu sebuah penolakan, ia siap karena itu sudah menjadi resikonya.

“Bagaimana jawaban Nabi, Kawan? Bagaimana lamaranmu?” tanya kawan Ali.
“Entahlah. Menurut kalian apakah ‘ahlan wa sahlan‘ berarti sebuah jawaban?” tanya Ali dengan wajah bingung.
”Satu kata saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Kau mendapatkan ahlan wa sahlan, Kawan! Dua-duanya berarti ya!” jawab kawan-kawan Ali.
Ali pun akhirnya menikahi Fatimah dengan menggadaikan baju besinya.
Ternyata, dalam kisah islami ini diceritakan tentang hal yang dilakukan oleh putri sang Nabi saat ia menjaga dirinya. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fatimah berkata kepada, “Ali, maafkan aku karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda.”
Ali terkejut dan berkata, “Kalau begitu, mengapa engkau mau menikah denganku? Lalu, siapakah pemuda itu?”
Sambil tersenyum, Fatimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah dirimu.”

Selengkapnya di : http://abiummi.com/belajar-cinta-dari-kisah-islami-ali-bin-abi-thalib/

Syar'i with Colourfull Umbrella


Location : Candi Muara Takus Area, Kampar regency, Riau-Indonesia
Up to Down : Armalaa's Collection
Taken by : Nurjamaliah
Camera : VIVO Y15
 Creative : ETIKA & ESTETIKA photo Concept
Ideas : Not What do you think, but How do You Think

BIDADARI PUN CEMBURU PADAMU
Inspiring Articel by Facebook Fanspage













(#LetsTalkAboutHijab). Hal terindah dari seorang wanita adalah bukan saat ia tersenyum saat bahagia, tapi saat butiran air matanya terjatuh saat berdoa. Bukan karena kecantikan yang mempesona, tapi karena ruku' dan sujudnya yang tiada henti. Atau bukan karena keelokan tubuhnya, tapi karena keteguhan imannya dalam menjaga auratnya dan taat kepada Suami maka ia adalah permata yang dirindu & embun yang dinanti. Bahkan bidadari pun cemburu padanya,,,

"Sesungguhnya orang-orang bertaqwa berada ditempat yang aman. Di dalam taman-taman dan mata air – mata air. Mereka memakai sutera halus dan sutera tebal,(duduk) berhadap-hadapan.Demikianlah…dan Kami jodohkan mereka kepada bidadari bermata jeli” (QS. Ad Dukhan 51-54)

“dan ada bidadari bermata indah,laksana mutiara tersimpan indah” (Surah al-waqi’ah 22-23)

Imam Ath-Thabrany mengisahkan dalam sebuah hadist, dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha,

Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”

Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.”

Saya bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?”

Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.’

Masyaallah, lihat betapa beruntungnya menjadi wanita solehah, sehingga membuat bidadaripun cemburu padanya. Sungguh betapa mulianya seorang muslimah yang kaffah diin islamnya. Mereka yang senantiasa menjaga ibadah dan akhlaknya, senantiasa menjaga keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah. Sungguh, betapa indah gambaran Allah kepada wanita shalehah, yang menjaga kehormatan diri dan suaminya. Yang tatkala cobaan dan ujian menimpa, hanya kesabaran dan keikhlasan yang ia tunjukkan. Di saat gemerlap dunia kian dahsyat menerpa, ia tetap teguh mempertahankan keimanannya. Sebaik-baik perhiasan ialah wanita sholehah. Dan wanita salehah adalah mereka yang menerapkan islam secara menyeluruh di dalam dirinya, sehingga kelak ia menjadi penyejuk mata bagi orang-orang di sekitarnya. Senantiasa merasakan kebaikan di manapun ia berada.




Sumber : https://www.facebook.com/media/set/?set=a.439114846171153.97595.392892924126679&type=3


Syari with Shebo on the Old Building

Location : Riau University, Pekanbaru City-Indonesia
Up to Down : Armalaa's Collection
Taken by : Tyn Dafiska
Camera : VIVO Y15
 Creative : ETIKA & ESTETIKA photo Concept
Ideas : Once a time, you have to try thing new
 
MENJAGA SUPAYA TERJAGA
Inspiring Story by novraldoalfastrada.blogspot.co.id










(#LetsTalkAboutHijab). Kamu tau kenapa saya suka melihat wanita yang pakai jilbab? Jawabannya sederhana, karena mata saya susah diajak kompromi. Bisa dibayangkan bagaimana saya harus mengontrol mata saya ini mulai dari keluar pintu rumah sampai kembali masuk rumah lagi. Dan kamu tau? Di kampus tempat saya seharian disana, kemana arah mata memandang selalu saja membuat mata saya terbelalak. Hanya dua arah yang bisa membuat saya tenang, mendongak ke atas langit atau menunduk ke tanah.

Saya ingin melihat wanita bukan sebagai objek pemuas mata. Tapi mereka adalah sosok yang anggun mempesona, kalau dipandang bikin sejuk di mata. Bukan paras yang membikin mata panas, membuat iman lepas ditarik oleh pikiran “ngeres” dan hatipun menjadi keras. Andai wanita itu mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh laki-laki ketika melihat mereka berpakaian seksi, saya yakin mereka tak mau tampil seperti itu lagi. Kecuali bagi mereka yang memang punya niat untuk menarik lelaki untuk memakai aset berharga yang mereka punya.

Mau tidak mau, sengaja ataupun tidak anda sudah membuat diri anda tidak dihargai dan dihormati oleh penampilan anda sendiri yang anda sajikan pada mata lelaki. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada diri anda, apa itu dengan kata-kata yang nyeleneh, pelecehan seksual atau mungkin sampai pada perkosaan. Siapa yang semestinya disalahkan? Saya yakin anda menjawabnya “lelaki” bukan? Oh betapa tersiksanya menjadi seorang lelaki dijaman sekarang ini.

Kalau boleh saya ibaratkan, tak ada pembeli kalau tidak ada yang jual. Simpel saja, orang pasti akan beli kalau ada yang nawarin. Apalagi barang bagus itu gratis, wah pasti semua orang akan berebut untuk menerima. Nah apa bedanya dengan anda menawarkan penampilan seksi anda pada khalayak ramai, saya yakin siapa yang melihat ingin mencicipinya. Allah Taala telah berfirman: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya”, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita beriman “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nuur : 30-31).

Saya yakin, banyak laki-laki yang punya dilema seperti saya ini. Mungkin ada yang menikmati, tetapi sebagian besar ada yang takut dan bingung harus berbuat apa. Bagi anda para wanita apakah akan selalu bahkan semakin menyiksa kami sampai kami tak mampu lagi memikirkan mana yang baik dan mana yang buruk.

So, berjilbablah … karena itu sungguh nyaman, tentram, anggun, cantik, mempersona dan tentunya sejuk dimata. Siap atau pun tidak siap pakai lah jilbab, dan apa pun yang akan terjadi ke depannya kita hanya berserah diri kepada-NYA.... sungguh banyak sekali berkah dan manfaat saat anda memakai jilbab.


Sumber:https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=3385750681240450632#editor/target=post;postID=8306345689613954962;onPublishedMenu=allposts;onClosedMenu=allposts;postNum=4;src=link