Syar'i on Sollar Eclipse Moment

Location : Some Places in Pekanbaru, Riau-Indonesia
Up to Down : Armalaa's Collection
Taken by : Nur Jamaliah
Camera : VIVO Y15
 Creative : ETIKA & ESTETIKA photo Concept
Ideas : Play with Flowers and Blue Sky
NARASI TENTANG JODOH
Inspiring Writing by some writers






Jika seorang wanita melaksanakan sholat 5 waktu, Puasa dibulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, taat kepada suaminya, dikatakan kepadany; "Masuklah ke dalam Syurga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki." (HR. Ahmad & Thabrani)
*
*
Kan ku jaga baik-baik hingga suatu hari itu datang menyapa masa depanku. Orang baik itu banyak sekali dan hanya akan ada 1 yang tepat. Selebihnya hanyalah ujian. Dan aku tidak pernah tahu siapa yang tepat sampai datang hari aqad. Maka, izinkan aku menunggumu dalam kecintaan dan harapanku kepada Allah tanpa adanya cinta lain yang tumbuh di hatiku. Akan menjadi hal yang memalukan bagiku ketika nanti Allah menghadiahkanmu dalam hidupku sedangkan di masa lalu aku terlalu sibuk mendamba cinta kepada laki-laki selain dirimu. Mengharapkan yang benar-benar baik, maka harus ku awali dengan membaikkan diriku. Untukmu yang bahkan aku tak tahu siapa, aku selalu menyapamu dalam doa. Kita tunggu saja jalan apa yang telah Allah persiapkan untuk mempertemukan kita. Allah selalu mempunya cara yang unik untuk menjodohkan 2 insan di bumi ini. Jalan takdir yang akan membuat kita tertawa setiap kali kita kembali menceritakannya berdua. (Instagram nikahbarokah)
*

Perlakukanlah pasangan secara istimewa di setiap keputusannya, sehingga di amerasa dihargai dan didukung oleh orang terdekat. (Teuku Wisnu)
*
*
Mungkin saat ini kamu tak jua datang menemui ayahku. Bukan karena kamu belum siap, tetapi bisa jadi justru akulah yang belum siap. Memang, terkadang aku terlalu sering menginginkan segera dilamar. Tetapi, aku sendiri tak tahu harus bagaimana setelah benar-benar dilamar nanti. Aku seringkali membayangkan nikmatnya pernikahan, tetapi tak ku fikirkan bagaimana cara menyelesaikan masalah-masalah di keluarga kecilku nanti. Aku pun masih terbawa emosi, larut dalam kegalauan dan berbagai problema anak muda. Menikah di usia muda adalah harapan banyak orang, pun aku menginginkan hal itu. Tapi, tanpa dasar-dasar ilmu nikah sepertinya kita akan banyak gegabahnya. Karena perkara nikah adalah sebuah KESIAPAN lahir dan bathin. Dan, indahnya suatu pernikahan itu bukan siapa yang lebih CEPAT melaksanakannya, tetapi siapa yang lebih HEBAT dalam membina keluarga setelah hari pernikahan itu sendiri. (Instagram suami.istri.bahagia)
*
*
Sederhana saja, impianku syurga. Tujuanku menjadi istri Shalihah. Itu sebabnya aku terus belajar memantaskan diri agar pantas menjadi istri Shalihah. Lalu, maukah engkau menungguku dalam doamu? (Instagram Kartun Muslimah)
*
*
Aku tidak meminta ia yang sempurna di mata manusia. Karena aku sadar, aku pun manusia dengan banyak kekurangan. Aku tahu diri, aku bukan selempar kertas putih yang tanpa NODA. Untuk menghilangkannya butuh waktu dan proses. Begitupun dengan harapan tentang JODOH. Aku hanya meminta kekasih pilihan yang telah Engkau Ridhoi untuk menemaniku melewati masa di dunia. Jauh sebelum aku memikirkan keberadaannya, jauh sebelum aku merindukan sosoknya, jauh sebelum aku mendoakannya di dalam setiap pintaku. Entah siapa namanya dan di mana aku akan bertemu dengannya. Entah bagaimana cara aku dan dia dipertemukan. Aku hanya bisa bersabar dalam DOA. Aku hanya bisa berusahadalam ikhtiar semampu yang ku BISA. Ya Allah...bila nanti ada seseorang yang datang untuk emnghalalkan diir yang penuh noda ini, jauhkanlah aku dari sifat merasa paling sempurna. Hilangkan EGOIS dalam diri. Karena, jika aku mengikuti ego, aku pasti hanya memilih keinginan duniawi. Bimbinglah hati ini untuk memilih seseorang bukan karena keinginanku semata, namun keinginanMu juga... (Instagram menikahfullbarokah)
*
*
Ini tentang Cinta dan diam. Bukan karena indah cintanya, namun perjuangna menjaga hatinya. Pelakunya selalu diam, namun hatinya berkelana. Bukan menghilangkan rasanya yang sakit, namun menjaganya agar tetap mulia-lah yang butuh usaha tak sedikit (Instagram SahabatMuslimah)

Syar'i on Mysterious Cafe

Location : Balam Sakti, Panam, Riau Province-Indonesia
 Up to Down : Armalaa's Collection
Taken by :Rini Vidianty
Camera : VIVO Y15
 Creative : ETIKA & ESTETIKA photo Concept
Ideas : Black is always shows your myysterious side


MANFAAT BERJILBAB BAGI WANITA
Inspiring Article by : manfaat.co.id






Manfaat menggunakan jilbab selain dekat dengan Allah juga akan dekat dengan batin yang bersih. Berhijab merupakan kewajiban bagi setiap muslimah di dunia, karena berhijab merupakan salah satu dari sunnah Rasullullah SAW. dan merupakan syariat agama yang harus dilaksanakan. Di era sekarang ini, semakin banyak para wanita menggunakan jilbab tanpa tahu manfaat menggunakan jilbab itu sendiri. Kebanyakan dari mereka hanya tahu bahwa memang di anjurkan untuk wanita menggunakan jilbab guna menutupi auratnya dan menjauhi segala maksiat.



Tapi tahukah kalian para wanita? Bukan hanya untuk itu saja kita menggunakan jilbab. Selain untuk meningkatkan ketaqwaan seorang muslimah, berhijab juga memiliki manfaat lainnya. Berikut adalah manfaat menggunakan jilbab bagi kesehatan dan tentunya juga dalam memperdalam ajaran agama.


1. Menaati Perintah Agama

Berjilbab merupakan salah satu sunnah Rasullullah SAW dalam ajaran islam, artinya ketika menggunakan jilbab kita telah melakukan salah satu sunnah Rasullullah dan mendekatkan diri kepadaNYA.


2. Terhindari dari godaan untuk centil dan tidak sopan

Dengan berjilbab wanita muslimah akan berpikir 100x untuk bersifat centil atau tidak sopan karena beban moral yang ia emban. Bagi muslimah yang serius dalam menggunakan jilbab, bisa dipastikan perbuatan ini semaksimal mungkin dihindari.


3. Laki laki akan merasa segan mengganggu/mengoda anda

Percaya atau tidak ini adalah manfaat menggunakan jilbab yang tidak disadari, namun survei telah menunjukkan bahwa laki-laki cenderung segan untuk menggoda perembuan yang menggunakan jilbab.


4. Menutupi Aurat

Sudah tentu ini adalah manfaat dasar yang akan diperoleh seorang perempuan yang menggunakan jilbab dalam kesehariannya. Dengan menggunakan jilbab anda akan menutupi seluruh aurat yang tidak diperbolehkan dilihat orang lain kecuali suami. Contohnya adalah kekukan dada dan paha.


5. Mencegah sengatan sinar matahari

Sinar matahari yang terik akan mengakibatkan berbagai masalah rambut dan kulit kepala yang mungkin berdampak serius bagi anda. Dengan menggunakan jilbab maka anda akan terlindungi dari masalah tersebut yang artinya tidak perlu menggunakan penutup kepala tambahan lagi.


6. Mencegah Kanker Kulit

Wah.. yang ada dibenak anda pasti “apa hubungannya jilbab dengan kanker” ? Perlu anda ketahui mengenakan pakaian ketat plus terkena sinar matahari dalam waktu lama akan mengakibatkan kulit menderita kanker milanoma. Wanita berjilbab pasti memiliki pakaian yang longgar dan pasti terhindar dari bahaya ini.


7. Menjaga kesehatan rambut

Sinar matahari, depu, polusi, dan berbagai radikal bebas yang terdapat diudara dapat mengakibatkan berbagai masalah serius untuk rambut. Sebut saja ketombe, rambut rontok, rambut bercabang, dan berbagai keluhan lain yang dapat anda atasi dengan menggunakan jilbab. Debu dan polusi merupakan penyebab utama masalah rambut, menggunakan jilbab adalah salah satu solusi praktisnya.


8. Mendidik untuk berperilaku baik

Menggunakan jilbab tidak semata menutupi aurat, melainkan juga untuk menjaga pandangan seorang muslimah agar tetap berprilaku baik sesuai kaidah agama. Yang dimaksud menjaga pandangan disini adalah bagaimana wanita menjaga akhlaknya untuk tidak melakukan sesuatu yang di luar syariat agama Islam. Walaupun banyak yang mengatakan bahwa jilbab bukan jaminan dalam perilaku seseorang, namun jika seseorang telah memiliki niat berhijap, maka ia tentu akan berusaha untuk menjalani perintah agamanya.


9. Menutupi masalah rambut

Secara tidak langsung jika anda memiliki masalah dengan rambut maka anda dapat terbantu, terutama dari sisi pandangan orang sekitar dengan menggunakan jilbab. Sudah tentu masalah tersebut tidak akan mengganggu atau membuat anda minder.


10. Mengurangi biaya perawatan rambut

Ok diluar hal di atas, satu hal yang tidak dapat kita elakkan adalah biaya perawatan rambut yang lebih minim untuk wanita berjilbab. Sebut saja rebonding, smoothing, dan creambath yang menelan biaya cukup tinggi, namun jika anda berjilbab, maka tidak perlu mengeluarkan biaya ini.


11. Menyusui ? Memberikan asi di tempat umum dengan mudah

Sadar atau tidak jika anda menggunakan jilbab dengan benar, setidaknya anda dapat memberikan asi secara leluasa ditempat umum yang mendesak. Jilbab akan secara otomatis dapat anda gunakan dalam menutupi bayi saat sedang minum asi.


12. Termotivasi untuk terus menuntut ilmu dan mengamalkannya kepada sesama
Ini pun juga termasuk manfaat dari penggunaan jilbab. Tanpa disadari, hati dan diri kita mendekat kepada yang maha kuasa. Untuk terus menuntut ilmu dan setelah mendapatkan ilmu tersebut dapat di ajarkan terhadap sesama muslim atau muslimah lainnya merupakan hal yang mulia oleh karena itu berhijab juga perlahan merubah sikap dan prilaku kita para wanita agar tetap terhormat.


Manfaat menggunakan jilbab bagi wanita yang berjilbab tentu dan sudah pasti terhormat dimata Allah SWT. dan tidak hanya itu mereka juga terhormat dimanapun mereka berada. Karena sesungguhnya mahkota wanita sebenarnya adalah jilbab itu sendiri. Seseorang akan menghargai wanita dimana wanita tersebut memang berhati dan berakhlak yang baik pula.

Syar'i on the White Wall

Location : University of Riau
 Up to Down : Armalaa's Collection
Taken by : Nurjamaliah & Rini Vidianty
Camera : VIVO Y15
 Creative : ETIKA & ESTETIKA photo Concept
Ideas :Seems like in photo studio
ROMANSA KHADIJAH DAN ROSULULLAH
Inspiring Article by kehidupannabimuhammadsaw.wordpress.com









Dia adalah Khadijah r.a, seorang wanita janda, bangsawan, hartawan, cantik dan budiman. Ia disegani oleh masyarakat Quraisy khususnya, dan bangsa Arab pada umumnya. Sebagai seorang pengusaha, ia banyak memberikan bantuan dan modal kepada pedagang-pedagang atau melantik orang-orang untuk mewakili urusan-urusan perniagaannya ke luar negeri. Banyak pemuda Quraisy yang ingin menikahinya dan sanggup membayar mas kawin berapa pun yang dikehendakinya, namun selalu ditolaknya dengan halus kerana tak ada yang berkenan di hatinya.

Pada suatu malam ia bermimpi melihat matahari turun dari langit, masuk ke dalam rumahnya serta memancarkan sinarnya merata kesemua tempat sehingga tiada sebuah rumah di kota Makkah yang luput dari sinarnya. Mimpi itu diceritakan kepada sepupunya yang bernama Waraqah bin Naufal. Dia seorang lelaki yang berumur lanjut, ahli dalam mentakbirkan mimpi dan ahli tentang sejarah bangsa-bangsa purba. Waraqah juga mempunyai pengetahuan luas dalam agama yang dibawa oleh Nabi-Nabi terdahulu.

Waraqah berkata: “Takwil dari mimpimu itu ialah bahwa engkau akan menikah kelak dengan seorang Nabi akhir zaman.” “Nabi itu berasal dari negeri mana?” tanya Khadijah bersungguh-sungguh. “Dari kota Makkah ini!” ujar Waraqah singkat. “Dari suku mana?” “Dari suku Quraisy juga.” Khadijah bertanya lebih jauh: “Dari keluarga mana?” “Dari keluarga Bani Hasyim, keluarga terhormat,” kata Waraqah dengan nada menghibur. Khadijah terdiam sejenak, kemudian tanpa sabar meneruskan pertanyaan terakhir: “Siapakah nama bakal orang agung itu, hai sepupuku?” Orang tua itu mempertegas: “Namanya Muhammad SAW. Dialah bakal suamimu!”

Khadijah pulang ke rumahnya dengan perasaan yang luar biasa gembiranya. Belum pernah ia merasakan kegembiraan sedemikian hebat. Maka sejak itulah Khadijah senantiasa bersikap menunggu dari manakah gerangan kelak munculnya sang pemimpin itu.

Nabi Muhammad muncul di rumah Khadijah. Wanita usahawan itu berkata
Khadijah: “Hai Al-Amiin, katakanlah apa keperluanmu!” (Suaranya ramah, bernada dermawan. Dengan sikap merendahkan diri tapi tahu harga dirinya)
Muhammad SAW berbicara lurus, terus terang, meskipun agak malu-malu tetapi pasti.
Muhammad SAW: “Kami sekeluarga memerlukan nafkah dari bagianku dalam rombongan niaga. Keluarga kami amat memerlukannya untuk mencarikan jodoh bagi anak saudaranya yang yatim piatu”
(Kepalanya tertunduk, dan wanita hartawan itu memandangnya dengan penuh ketakjuban)

Khadijah: “Oh, itukah….! Muhammad, upah itu sedikit, tidak menghasilkan apa-apa bagimu untuk menutupi keperluan yang engkau maksudkan,”. “Tetapi biarlah, nanti saya sendiri yang mencarikan calon isteri bagimu”.(Ia berhenti sejenak, meneliti).
Kemudian meneruskan dengan tekanan suara memikat dan mengandung isyarat
Khadijah: “Aku hendak mengawinkanmu dengan seorang wanita bangsawan Arab. Orangnya baik, kaya, diinginkan oleh banyak raja-raja dan pembesar-pembesar Arab dan asing, tetapi ditolaknya. Kepadanyalah aku hendak membawamu”.
khadijah (Khadijah tertunduk lalu melanjutkan): “Tetapi sayang, ada aibnya…! Dia dahulu sudah pernah bersuami. Kalau engkau mau, maka dia akan menjadi pengkhidmat dan pengabdi kepadamu”.
Pemuda Al-Amiin tidak menjawab. Mereka sama-sama terdiam, sama-sama terpaku dalam pemikirannya masing-masing. Yang satu memerlukan jawaban, yang lainnya tak tahu apa yang mau dijawab. Khadijah r.a tak dapat mengetahui apa yang terpendam di hati pemuda Bani Hasyim itu, pemuda yang terkenal dengan gelaran Al-Amiin (jujur). Pemuda Al-Amiin itupun mungkin belum mengetahui siapa kira-kira calon yang dimaksud oleh Khadijah r.a.
Rasulullah SAW minta izin untuk pulang tanpa sesuatu keputusan yang ditinggalkan. Ia menceritakan kepada Pamannya. Rasulullah SAW: “Aku merasa amat tersinggung oleh kata-kata Khadijah r.a. Seolah-olah dia memandang enteng dengan ucapannya ini dan itu “anu dan anu….” Ia mengulangi apa yang dikatakan oleh perempuan kaya itu. ‘Atiqah juga marah mendengar berita itu. Dia seorang perempuan yang cepat naik darah kalau pihak yang dinilainya menyinggung kehormatan Bani Hasyim. Katanya: “Muhammad, kalau benar demikian, aku akan mendatanginya”.

‘Atiqah tiba di rumah Khadijah r.a dan terus menegurnya: “Khadijah, kalau kamu mempunyai harta kekayaan dan kebangsawan, maka kamipun memiliki kemuliaan dan kebangsawanan. Kenapa kamu menghina puteraku, anak saudaraku Muhammad?” Khadijah r.a terkejut mendengarnya. Tak disangkanya bahwa kata-katanya itu akan dianggap penghinaan. Ia berdiri menyabarkan dan mendamaikan hati ‘Atiqah: Khadijah : “Siapakah yang sanggup menghina keturunanmu dan sukumu? Terus terang saja kukatakan kepadamu bahwa dirikulah yang kumaksudkan kepada Muhammad SAW. Kalau ia mau, aku bersedia menikah dengannya; kalau tidak,aku pun berjanji tak akan bersuami hingga mati”.

Pernyataan jujur ikhlas dari Khadijah r.a membuat ‘Atiqah terdiam. Kedua wanita bangsawan itu sama-sama cerah. Percakapan menjadi serius. “Tapi Khadijah, apakah suara hatimu sudah diketahui oleh sepupumu Waraqah bin Naufal?” tanya ‘Atiqah sambil meneruskan: “Kalau belum cobalah meminta persetujuannya.” “Ia belum tahu, tapi katakanlah kepada saudaramu, Abu Thalib, supaya mengadakan perjamuan sederhana. Jamuan minum, dimana sepupuku diundang, dan disitulah diadakan majlis lamaran”, Khadijah r.a berkata seolah-olah hendak mengatur siasat. Ia yakin Waraqah takkan keberatan karena dialah yang menafsirkan mimpinya akan bersuamikan seorang Nabi akhir zaman.
‘Atiqah pulang dengan perasaan tenang, puas. Pucuk dicinta ulam tiba. Ia segera menyampaikan berita gembira itu kepada saudara-saudaranya: Abu Thalib, Abu Lahab, Abbas dan Hamzah. Semua riang menyambut hasil pertemuan ‘Atiqah dengan Khadijah “Itu bagus sekali”, kata Abu Thalib, “tapi kita harus bermusyawarah dengan Muhammad SAW lebih dulu.”

Sebelum diajak bermusyawarah, maka terlebih dahulu ia pun telah menerima seorang perempuan bernama Nafisah, utusan Khadijah r.a yang datang untuk menjalin hubungan kekeluargaan. Utusan peribadi Khadijah itu bertanya:
Nafisah : “Muhammad, kenapa engkau masih belum berfikir mencari isteri?”
Muhammad SAW menjawab: “Hasrat ada, tetapi kesanggupan belum ada.”
Nafisah “Bagaimana kalau seandainya ada yang hendak menyediakan nafkah? Lalu engkau mendapat seorang isteri yang baik, cantik, berharta, berbangsa dan sekufu pula denganmu, apakah engkau akan menolaknya?”
Rasulullah SAW: “Siapakah dia?” tanya Muhammad SAW.
Nafisah : “Khadijah!” Nafisah berterus terang. “Asalkan engkau bersedia, sempurnalah segalanya. Urusannya serahkan kepadaku!”

Usaha Nafisah berhasil. Ia meninggalkan putera utama Bani Hasyim dan langsung menemui Khadijah r.a, menceritakan kesediaan Muhammad SAW. Setelah Muhammad SAW menerimapemberitahuan dari saudara-saudaranya tentang hasil pertemuan dengan Khadijah r.a, maka baginda tidak keberatan mendapatkan seorang janda yang usianya lima belas tahun lebih tua daripadanya.
Betapa tidak setuju, apakah yang kurang pada Khadijah? Ia wanita bangsawan, cantik, hartawan, budiman. Dan yang utama karena hatinya telah dibukakan Tuhan untuk mencintainya, telah ditakdirkan akan dijodohkan dengannya. Kalau dikatakan janda, biarlah! Ia memang janda umur empat puluh, tapi janda yang masih segar, bertubuh ramping, berkulit putih dan bermata jeli. Maka diadakanlah majlis yang penuh keindahan itu. Hadir Waraqah bin Naufal dan beberapa orang-orang terkemuka Arab yang sengaja dijemput. Abu Thalib dengan resmi meminang Khadijah r.a kepada saudara sepupunya. Orang tua bijaksana itu setuju. Tetapi dia meminta tempoh untuk berunding dengan wanita yang berkenaan.
Pernikahan Muhammad dengan Khadijah.

Khadijah r.a diminta pendapat. Dengan jujur ia berkata kepada Waraqah: “Hai anak sepupuku, betapa aku akan menolak Muhammad SAW padahal ia sangat amanah, memiliki keperibadian yang luhur, kemuliaan dan keturunan bangsawan, lagi pula pertalian kekeluargaannya luas”. “Benar katamu, Khadijah, hanya saja ia tak berharta”, ujar Waraqah. “Kalau ia tak berharta, maka aku cukup berharta. Aku tak memerlukan harta lelaki. Kuwakilkan kepadamu untuk menikahkan aku dengannya,” demikian Khadijah r.a menyerahkan urusannya. Waraqah bin Naufal kembali mendatangi Abu Thalib memberitakan bahwa dari pihak keluarga perempuan sudah bulat mufakat dan merestui bakal pernikahan kedua mempelai. Lamaran diterima dengan persetujuan mas kawin lima ratus dirham. Abu Bakar r.a, yang kelak mendapat sebutan “Ash-Shiddiq”, sahabat akrab Muhammad SAW. sejak dari masa kecil, memberikan sumbangan pakaian indah buatan Mesir, yang melambangkan kebangsawaan Quraisy, sebagaimana layaknya dipakai dalam upacara adat istiadat pernikahan agung, apalagi karena yang akan dinikahi adalah seorang hartawan dan bangsawan pula.

Peristiwa pernikahan Muhammad SAW dengan Khadijah r.a berlangsung pada hari Jum’at, dua bulan sesudah kembali dari perjalanan niaga ke negeri Syam. Bertindak sebagai wali Khadijah r.a ialah pamannya bernama ‘Amir bin Asad. Waraqah bin Naufal membacakan khutbah pernikahan dengan fasih, disambut oleh Abu Thalib sebagai berikut: “Alhamdu Lillaah, segala puji bagi Allah Yang menciptakan kita keturunan (Nabi) Ibrahim, benih (Nabi) Ismail, anak cucu Ma’ad, dari keturunan Mudhar. “Begitupun kita memuji Allah SWT Yang menjadikan kita penjaga rumah-Nya, pengawal Tanah Haram-Nya yang aman sejahtera, dan menjadikan kita hakim terhadap sesama manusia.
“Sesungguhnya anak saudaraku ini, Muhammad bin Abdullah, kalau akan ditimbang dengan laki-laki manapun juga, niscaya ia lebih berat dari mereka sekalian. Walaupun ia tidak berharta, namun harta benda itu adalah bayang-bayang yang akan hilang dan sesuatu yang akan cepat perginya. Akan tetapi Muhammad SAW, tuan-tuan sudah mengenalinya siapa dia. Dia telah melamar Khadijah binti Khuwailid. Dia akan memberikan mas kawin lima ratus dirham yang akan segera dibayarnya dengan tunai dari hartaku sendiri dan saudara-saudaraku.

“Demi Allah SWT, sesungguhnya aku mempunyai firasat tentang dirinya bahwa sesudah ini, yakni di saat-saat mendatang, ia akan memperolehi berita gembira (albasyaarah) serta pengalaman-pengalaman hebat. “Semoga Allah memberkati pernikahan ini”. Penyambutan untuk memeriahkan majlis pernikahan itu sangat meriah di rumah mempelai perempuan. Puluhan anak-anak lelaki dan perempuan berdiri berbaris di pintu sebelah kanan di sepanjang lorong yang dilalui oleh mempelai lelaki, mengucapkan salam marhaban kepada mempelai dan menghamburkan harum-haruman kepada para tamu dan pengiring. Selesai upacara dan tamu-tamu bubar, Khadijah r.a membuka isi hati kepada suaminya dengan ucapan: “Hai Al-Amiin, bergembiralah! Semua harta kekayaan ini baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, yang terdiri dari bangunan-bangunan, rumah-rumah, barang-barang dagangan, hamba-hamba sahaya adalah menjadi milikmu. Engkau bebas membelanjakannya ke jalan mana yang engkau redhai !” Itulah sebagaimana Firman Allah SWT yang bermaksud: “Dan Dia (Allah) mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kekayaan”. (Adh-Dhuhaa: 8)
Alangkah bahagianya kedua pasangan mulia itu, hidup sebagai suami isteri yang sekufu, sehaluan, serasi dan secita-cita.

Syar'i with Denim Shirt and Peach Hijab

Location : University of Riau
 Up to Down : Armalaa's Collection
Taken by : Susilowati
Camera : VIVO Y15
 Creative : ETIKA & ESTETIKA photo Concept
Ideas : Be cheers with peach


4 AMALAN UTAMA
Inspiring Article from Facebook Indahnya Ayat-ayat Al-Quran






Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra : Rasulullah SAW pernah bersabda, “Perbuatan yang engkau lakukan tidak akan menyelamatkan engkau dari api neraka”, mereka berkata, “Bahkan tuan sendiri ya Rasulullah?” Nabi Muhammad SAW bersabda, “Bahkan aku sendiri, kecuali Allah melindungiku dengan kasih dan rahmatNya. Oleh kerana itu lakukanlah perbuatan baik sepatut mungkin, setulus mungkin, sedapat mungkin dan beribadahlah kepada Allah pada pagi dan petang hari, pada sebagian dari malam hari dan bersikaplah al-qashd (mengambil pertengahan dan melaksanakannnya secara tetap) kerana dengan cara itulah kamu akan mencapai (syurga)”. Berdasarkan hadis tersebut jelaslah kepada kita bahawa perbuatan yang akan menyelamatkan kita daripada seksaan api neraka adalah :

Pertama : Perbuatan sebaik mungkin
Kedua : Perbutan setulus mungkin (bersungguh-sungguh ikhlas)
Ketiga : Perbuatan sedapat mungkin (bersungguh-sungguh hingga semaksima mungkin)
Keempat : Beribadah dengan cara sederhana dan istiqamah (berterusan).

1. Perbuatan sebaik mungkin (peringkat ihsan)
Allah SWT berfirman bermaksud: “Berbuat baiklah (kepada hamba Allah) seperti mana Allah berbuat baik kepadamu (dengan pemberian nikmat-Nya yang melimpah-limpah).” (Surah al-Qasas, ayat 77)
Ihsan adalah tonggak yang menegakkan kerangka agama seiring iman dan Islam. Namun, umat Islam kini memandang remeh konsep ihsan ini sehingga tidak mengambil endah kepentingannya dalam kehidupan seharian.

Ihsan bererti berbuat baik dan didefinisikan sebagai ajaran atau konsep mendukung etika kerja yang baik. Berdasarkan perspektif ini, ihsan dapat difahami sebagai produktiviti kerja secara optimum dengan hasil sumbangan terbaik dan berkualiti tinggi.  Konsep ihsan menjurus kepada dua matlamat utama. Pertama, ihsan dalam ibadat dan kedua, ihsan dalam muamalat.
Ihsan dalam ibadat ialah beribadat kepada Allah dengan penuh khusyuk dan tawaduk di samping ikhlas seolah-olah ketika itu sedang berhadapan dengan Allah SWT.

Jika perasaan itu ada, sudah tentu manusia gerun untuk melanggar larangan Allah SWT. Menurut Ibnu Hajar, sekiranya manusia tidak dapat melihat Allah, maka hendaklah dia meyakini Allah melihat dan mengawasinya. Justeru, setiap muslim hendaklah menyempurnakan ibadat dengan sebaiknya bertepatan landasan digariskan Allah dan sunnah Rasulullah SAW.

Perlu diingat konsep ihsan bukan sekadar memelihara hubungan baik dengan Allah SWT dalam urusan ibadat semata-mata kerana ihsan turut merangkumi setiap perlakuan sesama manusia sama ada bersangkutan perkara duniawi mahupun ukhrawi. Ihsan dalam muamalat adalah bersifat ihsan sesama manusia dan juga sesama makhluk Allah SWT yang lain. 

Rasulullah SAW bersabda maksudnya: “Wahai Aisyah! Kamu hendaklah menaruh kasihan belas (berihsan). Sesungguhnya apabila ihsan masuk ke dalam sesuatu, maka hendaklah ia menghiasinya. Dan apabila ihsan terkeluar daripada sesuatu, maka ia akan rosak.” (Hadis Riwayat Muslim)

2. Perbutan setulus mungkin (bersungguh-sungguh ikhlas kerana Allah SWT)


Ikhlas bermaksud melakukan amal ibadat sama ada secara khusus atau umum semata-mata memburu keredhaa Allah. Bagi orang yang hatinya berpaut dengan rasa keikhlasan tidak akan melakukan sesuatu mengharapkan pembalasan. Pepatah ada mengatakan, "Ada ubi ada batas aku beri jangan lupa di balas". Seseorang yang ikhlas juga tidak mengharapkan pujian dan sanjungan daripada manusia,jauh sekali menunjuk-nunjuk atau riak.

Ikhlas selalunya lahir dari hati yang luhur dan mengharapkan reda Allah SWT. semata-mata. Inilah akan menjadi kunci kesempurnaan dan kejayaan segala amal. Allah SWT. akan menerima perbuatan atau amal yang dilakukan dengan ikhlas. Firman Allah SWT  maksudnya : "Sesungguhnya kami menurunkan Al-Quran ini kepadamu wahai Muhammad dengan membawa kebenaran, oleh itu hendaklah engkau menyembah Allah dengan mengikhlaskan segala ibadat kepadaNya."

Rasulullah SAW bersabda maksudnya : "Sesungguhnya nilai perbuatan itu bergantung dengan niatnya,dan sesungguhnya bagi setiap orang, buah atau ganjaran sesuai bagaimana niatnya.barang siapa hijrahnya kerana menuruti perintah Allah dan RasulNya nescaya hijrahnya diterima oleh Allah dan RasulNya (dan diberi pahala) dan barang siapa hijrahnya kerana keuntungan dunia yang dikejarnya atau kerana perempuan yang akan dikahwininya,maka hijrahnya sampai
kepada yang diniatnya itu." (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)

3. Perbuatan sedapat mungkin (bersungguh-sungguh hingga semaksima mungkin)

Sabda Rasulullah SAW, "Sesungguhnya Allah SWT  menyukai apabila seseorang kamu bekerja dan melakukan pekerjaan itu dengan tekun." (Hadis Riwayat Abu Daud). Menurut hadis ini, apabila seseorang muslim suka membuat sesuatu pekerjaan dengan tekun sehingga selesai dan sempurna pekerjaannya, maka dia termasuk dalam kategori manusia yang disukai oleh Allah SWT. Mungkin kita tertanya-tanya, kenapakah Allah SWT sukakan muslim yang bersikap tekun dan bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya? Mungkin.. salah satu sebabnya ialah kerana Tuhan sendiri bersikap tekun dan bersungguh-sungguh tatkala Dia mencipta makhluk dengan serba kesempurnaan.

Hal ini disokong oleh sebuah hadis lain; “Sesungguhnya Allah itu cantik dan indah. Dan, dengan sebab itu, Dia sukakan keindahan.” Barangkali sebab itu juga Allah SWT benci manusia yang ‘mencacatkan’ kesempurnaan . ciptaanNya. Jika sesuatu perbuatan dibuat sambil lewa maka tidak bersungguh-sungguh maka perbuatan tersebut pasti rendah kualitinya dan pelakunya akan mengalami kegagalan.

4. Beribadah dengan cara sederhana dan istiqamah (berterusan) diwaktu pagi, petang dan sebahagian malam.

Islam tidak suka umatnya melakukan sesuatu ibadah yang banyak tetapi berhenti ditengah jalan dan tidak mampu dilakukan secara berterusan dan istiqamah. Sesuatu ibadah itu lebih baik dikerjakan sederhana tetapi berterusan dan istiqamah.

Islam menuntut setiap insan supaya berusaha mengejar dan mencari sedapat mungkin keperluan bagi menyempurnakan sebuah kehidupan sama ada di dunia mahupun di akhirat nanti. Cara paling sesuai dianjurkan Islam ialah dengan bersederhana. Ibadah yang dilakukan sedikit tetapi istiqamah adalah lebih baik daripada ibadah yang banyak tetapi berhenti ditengah jalan.

Diriwayatkan dari Aisyah ra : "Seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, “Apakah amal (ibadah) yang paling dicintai Allah?” Nabi Muhammad SAW bersabda,” Amal (ibadah) yang dilakukan secara tetap meskipun sedikit”(Hadis Riwayat Bukhari). Pada masa sama, perlu ada keseimbangan supaya kedua-dua tuntutan dunia dan akhirat dapat disempurnakan sebaiknya seperti sabda Rasulullah SAW bermaksud: “Beramallah untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selama-lamanya, dan beramallah untuk akhiratmu, seolah-olah kamu akan mati besok pagi.” (Hadis riwayat Ibn Asakir)

Istiqamah bermaksud kita  menempuh jalan (agama) yang lurus (benar) dengan tidak berpaling ke kiri mahupun ke kanan. Istiqamah ini mencakupi pelaksanaan semua bentuk ketaatan kepada Allah samaada zahir  dan batin dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya. Apabila  hati telah istiqamah dalam makrifat kepada Allah, dalam takut pada-Nya, pengagungankan-Nya, malu pada-Nya, cinta pada-Nya, berhajat pada-Nya, keinginan pada-Nya, harapan pada-Nya dan berdoa dan bermunajat pada-Nya, tawakkal pada-Nya dan berpaling dari selain-Nya maka organ tubuh lainnya akan istiqamah. Kerana sesungguhnya hati adalah komanden seluruh organ tubuh dan yang lain adalah prajurit.

Jika kita ingin anggota tubuh badan kita istiqamah maka istiqamahkanlah hati kita dengan Iman. Dan iman  ini tidak akan berlaku istiqamah,  kecuali lisan kita telah istiqamah terlebih dahulu, sebagaimana yang pernah Rasulullah S.A.W. bersabda maksudnya  :"Tidaklah iman seorang hamba itu lurus (istiqamah) hingga hatinya istiqamah, dan hatinya tidak akan istiqamah kecuali lisannya telah istiqamah." (Hadis Riwayat Ahmad)