Syar'i with Kimono DIY by me

Location : Mall SKA Pekanbaru
Up to Down : Armalaa's Collection
Taken by : Yana Nursita
Camera : VIVO Y15
 Creative : ETIKA & ESTETIKA photo Concept
Ideas : Feel completing and completed
BERKATA BAIK ATAU DIAM
Inspiring Article from nurassajatipurnamaalam.blogspot.co.id










Lidah tak bertulang, namun ketajamanannya dapat menembus hingga lubuk hati yang paling dalam. Luka yang diakibatkannya pun seringkali sulit untuk bisa dilupakan dalam waktu yang singkat. Lidah atau lisan, adalah salah satu nikmat yang diberikan kepada kita oleh Allah swt. Selain sebagai salah satu indera perasa (indera pengecap). Lidah atau lisan juga sebagai salah satu bagian dari ‘alat’ komunikasi kita.

Dibandingkan mendengar kita lebih menyukai berbicara. Dari hadis di atas, Rasululloh mensinyalir bahwasanya lisan dapat membawa ‘kerusakan’ yang besar kalau kita tidak dapat menjaganya.  Untuk itu Rasululloh mendahulukannya dengan kata-kata, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir…”. Dengan kata lain menjaga lisan itu adalah hal yang harus benar-benar kita perhatikan.  Sehingga dimasukan dalam salah satu ciri atau tanda berimannya seseorang. Dalam realitanya pun kita dapat melihat seberapa besar bahaya yang diakibatkan oleh ‘kejahatan lisan’.

Persaudaraaan, kekerabatan, pertemanan, perceraian, bahkan pertumpahan darah pun bisa terjadi karena bahaya yang dihasilkan oleh lisan. Bahaya tersebut antara lain adalah berupa hasud, fitnah, celaan, dan yang lainnya. Terlebih bagi kaum wanita yang sangat rentan sekali dengan kebohongan berita atau ‘gosip’. Sudah menjadi rahasia umum ‘ngegosip’ adalah ‘hobi’ para wanita, baik itu ibu-ibu maupun yang masih lajang. Seringkali kita tidak pernah sadar akan kemadhorotan yang besar dan merugikan bagi orang lain juga diri kita sebagai akibat dari tidak bisanya menjaga lisan.

Dalam kitab-Nya yang suci Al-Qur’anul Karim Allah swt berfirman, “Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) di sisi Allah…” (QS Al-Baqoroh [2]:217).

Ini memperkuat betapa pentingnya memperhatikan lisan kita agar tidak melukai perasaan orang lain, terlebih sampai menimbulkan kemadhorotan yang lebih besar.
Kita juga tak asing dengan sebuah pepatah bijak yang mengatakan, 
“Diam itu emas’. Dan itu memang sejalan dengan apa yang diajarkan oleh Islam. Pada zaman sekarang menjaga lisan sudah sering tidak kita perhatikan lagi. Bahkan parahnya hal tersebut dijadikan sebagai barang komoditi. 

Seperti infotainment yang menyajikan acara ‘ghibah’ atau gosip. Membicarakan hal pribadi atau kejelakan orang lain, terlepas dari siapa dan apa yang dibicarakannya.  Dengan tidak melihat kemadhorotannya yang lebih besar sebagai akibat dari tidak menjaga lisan mereka. Di sisi lain, lagi-lagi Islam menuniukkan kesempurnaannya sebagai agama yang diridhoi di sisi-Nya. Sampai hal yang kecil dan sering dianggap remeh ternyata Islam sangat begitu memperhatikannya. 

Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti berkata dalam kitabnya Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala hal. 45, “Orang yang berakal selayaknya lebih banyak diam daripada bicara. Hal itu karena betapa banyak orang yang menyesal karena bicara, dan sedikit yang menyesal karena diam. Orang yang paling celaka dan paling besar mendapat bagian musibah adalah orang yang lisannya senantiasa berbicara, sedangkan pikirannya tidak mau jalan”.

Beliau berkata pula di hal. 47, “Orang yang berakal seharusnya lebih banyak mempergunakan kedua telinganya daripada mulutnya. Dia perlu menyadari bahwa dia diberi telinga dua buah, sedangkan mulut hanya satu adalah supaya dia lebih banyak mendengar daripada berbicara. "Seringkali orang menyesal di kemudian hari karena perkataan yang diucapkannya, sementara diamnya tidak akan pernah membawa penyesalan. Dan menarik diri dari perkataan yang belum diucapkan adalah lebih mudah dari pada menarik perkataan yang telah terlanjur diucapkan.

Hal itu karena biasanya apabila seseorang tengah berbicara maka perkataan-perkataannya akan menguasai dirinya. Sebaliknya, bila tidak sedang berbicara maka dia akan mampu mengontrol perkataan-perkataannya. Beliau menambahkan di hal. 49, “Lisan seorang yang berakal berada di bawah kendali hatinya. Ketika dia hendak berbicara, maka dia akan bertanya terlebih dahulu kepada hatinya. Apabila perkataan tersebut bermanfaat bagi dirinya, maka dia akan bebicara, tetapi apabila tidak bermanfaat, maka dia akan diam.
Adapun orang yang bodoh, hatinya berada di bawah kendali lisannya. Dia akan berbicara apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya. Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya berarti tidak paham terhadap agamanya”. 

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak meninpakan sesuatu musibah kepada sesuatu kaum tampa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu" ( QS al- Hujuraat ayat 6)

Memang bukan hal mudah tuk mengetahui kapan harus menggunakan lidah, & pengamalannyapun tak kalah sulitnya. Kebanyakan manusia meremehkan keharusan mewaspadai bahaya lidah (termasuk saya), karna itu, lidah adalah sarana paling utama bagi setan dalam menyesatkan manusia.


*Artikel ini dikutip dari: https://draft.blogger.com/blogger.g?blogID=3385750681240450632#editor/target=post;postID=1870071255598438205;onPublishedMenu=allposts;onClosedMenu=allposts;postNum=2;src=link

Syar'i in the middle of shining and bookstore

Location : Mal Pekanbaru
Up to Down : Armalaa's Collection
Taken by : Sultini
Camera : VIVO Y15
 Creative : ETIKA & ESTETIKA photo Concept
Ideas : Long Skirt makes you cheers up

MENJAGA LIDAH
Inspiring writing from cintakajiansunnah.com











Simaklah apa yang di ucapkan oleh al-Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah rahimahullah, “Amat mengherankan bahwa ada seseorang yang dengan mudah dapat menjaga diri dari makan makanan yang haram, berbuat zhalim, berzina, mencuri, minum khomer, memandang sesuatu yang haram dan sebagainya, namun ia sulit untuk menjaga gerakan lisannya. Sehingga engkau dapat melihat seseorang yang dijadikan acuan dalam agama, kezuhudan dan ibadah, ia berucap dengan perkataan-perkataan yang mengundang kemurkaan Allah tanpa ambil peduli. Padahal satu kalimat saja akan dapat menjatuhkannya dengan jarak lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat. Berapa banyak kamu lihat orang yang mampu menjaga dari perbuatan keji dan kezhaliman, sementara itu lisannya mencela kehormatan orang-orang yang masih hidup dan juga orang-orang yang telah mati, tanpa peduli sedikitpun tentang apa yang ia ucapkan”. [Ad-Da’ wa ad-Dawa’ halaman 191 oleh al-Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah].

Sudah menjadi rahasia umum, sekarang ini banyak tetangga yang tidak merasa aman dari tetangganya yang lain atau shahabat yang tidak merasa nyaman dari shahabat lainnya. Atau juga didapati seseorang tidak merasa aman dan kerasan dari kakak atau adiknya bahkan dari orang tuanya, atau juga seseorang dari anak, menantu atau mertuanya. Atau juga guru tidak merasa aman dan nyaman dari muridnya dan begitupun sebaliknya. Atau juga pemimpin dari rakyatnya atau rakyat dari pemimpinnya, dan sebagainya. Mereka saling curiga dan waspada akan kejahatan amal atau ucapan satu dari lainnya. Jika segala perilaku seseorang saja dapat menimbulkan penilaian negatif dari orang lain maka bagaimana jika ia melakukan suatu perbuatan yang buruk atau mengucapkan suatu perkataan yang keliru, tentu akan lebih fatal lagi akibatnya.

Oleh sebab itu, di antara mereka ada yang khawatir segala keburukannya mendapatkan cercaan atau celaan dari selainnya dan takut menjadi bahan gunjingan (objek ghibah) sesamanya. Sehingga sebahagian mereka ada yang berusaha meninggalkan dan menanggalkan berbagai kesalahan dan dosa itu karena takut menjadi bahan pembicaraan orang lain. Atau ada juga diantara mereka yang mengerjakannya secara sembunyi-sembunyi. Lalu kalau begitu, apatah artinya menjauhkan diri dari berbagai aib jika bukan karena Allah Subhanahu wa ta’ala?.

Meninggalkan berbagai kemungkaran adalah suatu keharusan, tetapi membuat orang lain tidak aman dan nyaman dari sebab khawatir keburukannya disebarluaskan orang lain adalah hal yang juga patut direnungkan dan diperhitungkan. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menerangkan bahwasanya orang yang tidak membuat rasa aman kepada orang lain, misalnya kepada tetangga, kerabat, teman atau lainnya maka ia adalah orang yang tidak sempurna keimanannya dan tidak akan masuk ke dalam surga serta mendapatkan kedudukan yang paling buruk di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana telah dituangkan di dalam beberapa hadits berikut ini,

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk ke dalam surga, seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatan-kejahatannya”. [HR al-Bukhori di dalam al-Adab al-Mufrad: 121 dan shahihnya: 6016, Muslim: 46 dan al-Hakim: 21 Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahiih al-Adab al-Mufrad: 89, Mukhtashor Shahih Muslim: 33, Shahih al-Jami’ ash-Shagiir: 7675, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 549 (II/ 82)].

Di dalam shahih al-Bukhoriy dari Abu Syuraih radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman”. Ditanyakan kepada Beliau, “Siapakah dia wahai Rosulullah?”. Beliau bersabda, “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatan-kejahatannya”.



*Artikel ini dikutip dari: https://cintakajiansunnah.wordpress.com/tag/kisah-seorang-wanita-yang-rajin-beribadah-namun-suka-mengganggu-tetangganya-dengan-lisannya-maka-ia-akan-masuk-neraka/


Syar'i with Orange Wall



Location : X Dormitory, Jalan Bangun Karya, Riau-Indonesia
Up to Down : Armalaa's Collection
Taken by : Yana Nursita
Camera : VIVO Y15
 Creative : ETIKA & ESTETIKA photo Concept
Ideas : Just do pose you feel enjoy




GELAR ISTIMEWA DARI RATU INGRIS
Inspiring Writing from Suryamalang.com


















Kerajaan Inggris memberi pesan kepada dunia, bahwa mereka tidak membeda-bedakan seseorang dari agama dan ras.Ini setelah sang penguasa Inggris Raya, Ratu Elizabeth II, menobatkan sebuah gelar penghargaan kepada Rimla Akhtar, seorang atlet Inggrisyang seorang muslim. Penghargaan ini diberikan oleh Ratu Elizabeth II, di hari ulang tahunnya, pada 21 April 2015 lalu.

Rimla, yang sehari-hari, mengenakan jilbab, menerima penghargaan MBE, atau Member of the Most Excellent Order of the British Empire. Penghargaan ini diberikan kepada mereka yang dianggap telah berjasa memberikan sumbangsih tenaga untuk mengharumkan nama Inggris Raya.

Tidak banyak atlet Inggris yang sudah mendapat penghargaan ini. Rimla Akhtar kini bahkan sejajar dengan pesepakbola-pesepakbola top Inggris, seperti Steven Gerrard, Ian Wright, atau Teddy Sheringham.
"Penghargaan ini terasa seperti sebuah dukungan besar di belakangku. Tapi, ini harusnya buat semua orang yang terlibat, tidak hanya untukku," kata Rimla.

Rimla Akhtar (32), adalah pimpinan dari yayasan olah raga Muslim Women's Sport Foundation. Pada tahun 2005, dia adalah kapten dari tim sepak bola wanita muslim se-Inggris Raya.
Oleh pemerintahan Inggris, Rimla dianggap berhasil membuat kalangan wanita muslim, tidak ragu untuk berjuang menjadi atlet, tanpa harus meninggalkan aturan mereka sebagai muslim, seperti berhijab, salah satunya. (*)



Sumber : http://suryamalang.tribunnews.com/2015/06/18/perjuangkan-jilbab-wanita-ini-mendapat-gelar-istimewa-dari-ratu-inggris