 |
Location : University of Riau
Up
to Down : Armalaa's Collection
Taken
by : Nurjamaliah & Rini Vidianty
Camera
: VIVO Y15
Creative
: ETIKA & ESTETIKA photo Concept
Ideas :Seems like in photo studio
|
ROMANSA KHADIJAH DAN ROSULULLAH
Inspiring Article by kehidupannabimuhammadsaw.wordpress.com
Dia adalah Khadijah r.a, seorang wanita
janda, bangsawan, hartawan, cantik dan budiman. Ia disegani oleh masyarakat
Quraisy khususnya, dan bangsa Arab pada umumnya. Sebagai seorang pengusaha, ia
banyak memberikan bantuan dan modal kepada pedagang-pedagang atau melantik
orang-orang untuk mewakili urusan-urusan perniagaannya ke luar negeri. Banyak
pemuda Quraisy yang ingin menikahinya dan sanggup membayar mas kawin berapa pun
yang dikehendakinya, namun selalu ditolaknya dengan halus kerana tak ada yang
berkenan di hatinya.
Pada suatu malam ia bermimpi melihat
matahari turun dari langit, masuk ke dalam rumahnya serta memancarkan sinarnya
merata kesemua tempat sehingga tiada sebuah rumah di kota Makkah yang luput
dari sinarnya. Mimpi itu diceritakan kepada sepupunya yang bernama Waraqah bin
Naufal. Dia seorang lelaki yang berumur lanjut, ahli dalam mentakbirkan mimpi
dan ahli tentang sejarah bangsa-bangsa purba. Waraqah juga mempunyai pengetahuan
luas dalam agama yang dibawa oleh Nabi-Nabi terdahulu.
Waraqah berkata: “Takwil dari mimpimu
itu ialah bahwa engkau akan menikah kelak dengan seorang Nabi akhir zaman.”
“Nabi itu berasal dari negeri mana?” tanya Khadijah bersungguh-sungguh. “Dari kota
Makkah ini!” ujar Waraqah singkat. “Dari suku mana?” “Dari suku Quraisy juga.”
Khadijah bertanya lebih jauh: “Dari keluarga mana?” “Dari keluarga Bani Hasyim,
keluarga terhormat,” kata Waraqah dengan nada menghibur. Khadijah terdiam
sejenak, kemudian tanpa sabar meneruskan pertanyaan terakhir: “Siapakah nama
bakal orang agung itu, hai sepupuku?” Orang tua itu mempertegas: “Namanya
Muhammad SAW. Dialah bakal suamimu!”
Khadijah pulang ke rumahnya dengan
perasaan yang luar biasa gembiranya. Belum pernah ia merasakan kegembiraan
sedemikian hebat. Maka sejak itulah Khadijah senantiasa bersikap menunggu dari
manakah gerangan kelak munculnya sang pemimpin itu.
Nabi Muhammad muncul di rumah Khadijah.
Wanita usahawan itu berkata
Khadijah: “Hai Al-Amiin, katakanlah apa
keperluanmu!” (Suaranya ramah, bernada dermawan. Dengan sikap merendahkan diri
tapi tahu harga dirinya)
Muhammad SAW berbicara lurus, terus
terang, meskipun agak malu-malu tetapi pasti.
Muhammad SAW: “Kami sekeluarga memerlukan nafkah dari bagianku dalam rombongan
niaga. Keluarga kami amat memerlukannya untuk mencarikan jodoh bagi anak
saudaranya yang yatim piatu”
(Kepalanya tertunduk, dan wanita
hartawan itu memandangnya dengan penuh ketakjuban)
Khadijah: “Oh, itukah….! Muhammad, upah itu sedikit, tidak menghasilkan apa-apa
bagimu untuk menutupi keperluan yang engkau maksudkan,”. “Tetapi biarlah, nanti
saya sendiri yang mencarikan calon isteri bagimu”.(Ia berhenti sejenak,
meneliti).
Kemudian meneruskan dengan tekanan suara
memikat dan mengandung isyarat
Khadijah: “Aku hendak mengawinkanmu dengan seorang wanita bangsawan Arab.
Orangnya baik, kaya, diinginkan oleh banyak raja-raja dan pembesar-pembesar
Arab dan asing, tetapi ditolaknya. Kepadanyalah aku hendak membawamu”.
khadijah (Khadijah tertunduk lalu
melanjutkan): “Tetapi sayang, ada aibnya…! Dia dahulu sudah pernah bersuami.
Kalau engkau mau, maka dia akan menjadi pengkhidmat dan pengabdi kepadamu”.
Pemuda Al-Amiin tidak menjawab. Mereka
sama-sama terdiam, sama-sama terpaku dalam pemikirannya masing-masing. Yang
satu memerlukan jawaban, yang lainnya tak tahu apa yang mau dijawab. Khadijah
r.a tak dapat mengetahui apa yang terpendam di hati pemuda Bani Hasyim itu,
pemuda yang terkenal dengan gelaran Al-Amiin (jujur). Pemuda Al-Amiin itupun
mungkin belum mengetahui siapa kira-kira calon yang dimaksud oleh Khadijah r.a.
Rasulullah SAW minta izin untuk pulang
tanpa sesuatu keputusan yang ditinggalkan. Ia menceritakan kepada Pamannya. Rasulullah
SAW: “Aku merasa amat tersinggung oleh kata-kata Khadijah r.a. Seolah-olah dia
memandang enteng dengan ucapannya ini dan itu “anu dan anu….” Ia mengulangi apa
yang dikatakan oleh perempuan kaya itu. ‘Atiqah juga marah mendengar berita
itu. Dia seorang perempuan yang cepat naik darah kalau pihak yang dinilainya
menyinggung kehormatan Bani Hasyim. Katanya: “Muhammad, kalau benar demikian,
aku akan mendatanginya”.
‘Atiqah tiba di rumah Khadijah r.a dan
terus menegurnya: “Khadijah, kalau kamu mempunyai harta kekayaan dan
kebangsawan, maka kamipun memiliki kemuliaan dan kebangsawanan. Kenapa kamu
menghina puteraku, anak saudaraku Muhammad?” Khadijah r.a terkejut
mendengarnya. Tak disangkanya bahwa kata-katanya itu akan dianggap penghinaan.
Ia berdiri menyabarkan dan mendamaikan hati ‘Atiqah: Khadijah : “Siapakah yang
sanggup menghina keturunanmu dan sukumu? Terus terang saja kukatakan kepadamu
bahwa dirikulah yang kumaksudkan kepada Muhammad SAW. Kalau ia mau, aku
bersedia menikah dengannya; kalau tidak,aku pun berjanji tak akan bersuami
hingga mati”.
Pernyataan jujur ikhlas dari Khadijah
r.a membuat ‘Atiqah terdiam. Kedua wanita bangsawan itu sama-sama cerah.
Percakapan menjadi serius. “Tapi Khadijah, apakah suara hatimu sudah diketahui
oleh sepupumu Waraqah bin Naufal?” tanya ‘Atiqah sambil meneruskan: “Kalau
belum cobalah meminta persetujuannya.” “Ia belum tahu, tapi katakanlah kepada
saudaramu, Abu Thalib, supaya mengadakan perjamuan sederhana. Jamuan minum,
dimana sepupuku diundang, dan disitulah diadakan majlis lamaran”, Khadijah r.a
berkata seolah-olah hendak mengatur siasat. Ia yakin Waraqah takkan keberatan
karena dialah yang menafsirkan mimpinya akan bersuamikan seorang Nabi akhir
zaman.
‘Atiqah pulang dengan perasaan tenang,
puas. Pucuk dicinta ulam tiba. Ia segera menyampaikan berita gembira itu kepada
saudara-saudaranya: Abu Thalib, Abu Lahab, Abbas dan Hamzah. Semua riang
menyambut hasil pertemuan ‘Atiqah dengan Khadijah “Itu bagus sekali”, kata Abu
Thalib, “tapi kita harus bermusyawarah dengan Muhammad SAW lebih dulu.”
Sebelum diajak bermusyawarah, maka
terlebih dahulu ia pun telah menerima seorang perempuan bernama Nafisah, utusan
Khadijah r.a yang datang untuk menjalin hubungan kekeluargaan. Utusan peribadi
Khadijah itu bertanya:
Nafisah : “Muhammad, kenapa engkau masih
belum berfikir mencari isteri?”
Muhammad SAW menjawab: “Hasrat ada, tetapi kesanggupan belum ada.”
Nafisah “Bagaimana kalau seandainya ada
yang hendak menyediakan nafkah? Lalu engkau mendapat seorang isteri yang baik,
cantik, berharta, berbangsa dan sekufu pula denganmu, apakah engkau akan
menolaknya?”
Rasulullah SAW: “Siapakah dia?” tanya
Muhammad SAW.
Nafisah : “Khadijah!” Nafisah berterus
terang. “Asalkan engkau bersedia, sempurnalah segalanya. Urusannya serahkan
kepadaku!”
Usaha Nafisah berhasil. Ia meninggalkan
putera utama Bani Hasyim dan langsung menemui Khadijah r.a, menceritakan
kesediaan Muhammad SAW. Setelah Muhammad SAW menerimapemberitahuan dari
saudara-saudaranya tentang hasil pertemuan dengan Khadijah r.a, maka baginda
tidak keberatan mendapatkan seorang janda yang usianya lima belas tahun lebih
tua daripadanya.
Betapa tidak setuju, apakah yang kurang
pada Khadijah? Ia wanita bangsawan, cantik, hartawan, budiman. Dan yang utama
karena hatinya telah dibukakan Tuhan untuk mencintainya, telah ditakdirkan akan
dijodohkan dengannya. Kalau dikatakan janda, biarlah! Ia memang janda umur
empat puluh, tapi janda yang masih segar, bertubuh ramping, berkulit putih dan
bermata jeli. Maka diadakanlah majlis yang penuh keindahan itu. Hadir Waraqah
bin Naufal dan beberapa orang-orang terkemuka Arab yang sengaja dijemput. Abu
Thalib dengan resmi meminang Khadijah r.a kepada saudara sepupunya. Orang tua
bijaksana itu setuju. Tetapi dia meminta tempoh untuk berunding dengan wanita
yang berkenaan.
Pernikahan Muhammad dengan Khadijah.
Khadijah r.a diminta pendapat. Dengan
jujur ia berkata kepada Waraqah: “Hai anak sepupuku, betapa aku akan menolak
Muhammad SAW padahal ia sangat amanah, memiliki keperibadian yang luhur,
kemuliaan dan keturunan bangsawan, lagi pula pertalian kekeluargaannya luas”.
“Benar katamu, Khadijah, hanya saja ia tak berharta”, ujar Waraqah. “Kalau ia
tak berharta, maka aku cukup berharta. Aku tak memerlukan harta lelaki.
Kuwakilkan kepadamu untuk menikahkan aku dengannya,” demikian Khadijah r.a
menyerahkan urusannya. Waraqah bin Naufal kembali mendatangi Abu Thalib
memberitakan bahwa dari pihak keluarga perempuan sudah bulat mufakat dan
merestui bakal pernikahan kedua mempelai. Lamaran diterima dengan persetujuan
mas kawin lima ratus dirham. Abu Bakar r.a, yang kelak mendapat sebutan
“Ash-Shiddiq”, sahabat akrab Muhammad SAW. sejak dari masa kecil, memberikan
sumbangan pakaian indah buatan Mesir, yang melambangkan kebangsawaan Quraisy,
sebagaimana layaknya dipakai dalam upacara adat istiadat pernikahan agung,
apalagi karena yang akan dinikahi adalah seorang hartawan dan bangsawan pula.
Peristiwa pernikahan Muhammad SAW dengan
Khadijah r.a berlangsung pada hari Jum’at, dua bulan sesudah kembali dari perjalanan
niaga ke negeri Syam. Bertindak sebagai wali Khadijah r.a ialah pamannya
bernama ‘Amir bin Asad. Waraqah bin Naufal membacakan khutbah pernikahan dengan
fasih, disambut oleh Abu Thalib sebagai berikut: “Alhamdu Lillaah, segala puji
bagi Allah Yang menciptakan kita keturunan (Nabi) Ibrahim, benih (Nabi) Ismail,
anak cucu Ma’ad, dari keturunan Mudhar. “Begitupun kita memuji Allah SWT Yang
menjadikan kita penjaga rumah-Nya, pengawal Tanah Haram-Nya yang aman
sejahtera, dan menjadikan kita hakim terhadap sesama manusia.
“Sesungguhnya anak saudaraku ini, Muhammad bin Abdullah, kalau akan ditimbang
dengan laki-laki manapun juga, niscaya ia lebih berat dari mereka sekalian.
Walaupun ia tidak berharta, namun harta benda itu adalah bayang-bayang yang
akan hilang dan sesuatu yang akan cepat perginya. Akan tetapi Muhammad SAW,
tuan-tuan sudah mengenalinya siapa dia. Dia telah melamar Khadijah binti
Khuwailid. Dia akan memberikan mas kawin lima ratus dirham yang akan segera
dibayarnya dengan tunai dari hartaku sendiri dan saudara-saudaraku.
“Demi Allah SWT, sesungguhnya aku
mempunyai firasat tentang dirinya bahwa sesudah ini, yakni di saat-saat
mendatang, ia akan memperolehi berita gembira (albasyaarah) serta
pengalaman-pengalaman hebat. “Semoga Allah memberkati pernikahan ini”.
Penyambutan untuk memeriahkan majlis pernikahan itu sangat meriah di rumah
mempelai perempuan. Puluhan anak-anak lelaki dan perempuan berdiri berbaris di
pintu sebelah kanan di sepanjang lorong yang dilalui oleh mempelai lelaki,
mengucapkan salam marhaban kepada mempelai dan menghamburkan harum-haruman
kepada para tamu dan pengiring. Selesai upacara dan tamu-tamu bubar, Khadijah
r.a membuka isi hati kepada suaminya dengan ucapan: “Hai Al-Amiin,
bergembiralah! Semua harta kekayaan ini baik yang bergerak maupun yang tidak
bergerak, yang terdiri dari bangunan-bangunan, rumah-rumah, barang-barang
dagangan, hamba-hamba sahaya adalah menjadi milikmu. Engkau bebas
membelanjakannya ke jalan mana yang engkau redhai !” Itulah sebagaimana Firman
Allah SWT yang bermaksud: “Dan Dia (Allah) mendapatimu sebagai seorang yang
kekurangan, lalu Dia memberikan kekayaan”. (Adh-Dhuhaa: 8)
Alangkah bahagianya kedua pasangan mulia
itu, hidup sebagai suami isteri yang sekufu, sehaluan, serasi dan secita-cita.