LEWAT KABAR KEMATIAN
Inspiring Story by : Dyah Eka
(#LetsTalkAboutHijab). Sewaktu gadis manis berpipi tembem berhidung pesek (Wah... fantastis banget ya sebutannya) ini mengutarakan keinginannya, sontak aku langsung tertegun. “Nulis? Di blogmu El? WOW ya cint. Mami kan ngga bisa nulis,” tuturku, ragu.
Inspiring Story by : Dyah Eka
(#LetsTalkAboutHijab). Sewaktu gadis manis berpipi tembem berhidung pesek (Wah... fantastis banget ya sebutannya) ini mengutarakan keinginannya, sontak aku langsung tertegun. “Nulis? Di blogmu El? WOW ya cint. Mami kan ngga bisa nulis,” tuturku, ragu.
“Nggak
susah kok Mi. Tulis aja sesuai gaya Mami sendiri. Yang penting, pesan motivasi
berhijabnya tersampaikan,” negonya lagi.
Ya
tetep aja judulnya NULIS.
Bisa ngga ya?. Aku membatin.
Hijab bukan perkara mudah bagiku.
Sebenarnya. Dalam pandanganku hijab ini mengandung
tanggung
jawab besar didalamnya. Tanggung jawab menjaga, memperbaiki dan memotivasi diri
jadi lebih baik hingga kelak
akhirnya memotivasi orang lain supaya sevisi denganku.
Sejak beberapa tahun lalu seorang sahabat sudah memotivasiku untuk mengcover diri, menutup apa yang memang seharusnya
ditutup dan menjalankan apa yang
telah diperintahkan. Tapi ya dasar aku-nya bandel,
akhirnya nasehat itu hanya tinggal nasehat.
Hingga suatu saat aku menyadari betapa sayangnya Allah SWT kepada ku.
“Yah, papanya Ari meninggal,” ibuk mengabariku pada suatu pagi.
Dalam keadaan kaget ku ucap, “Inalillahi wa
inaillaihiroji’un”. Subhanallah, ini kan hari jumat, bathinku lagi.
“Meninggalnya waktu shalat maghrib
berjamaah di Mesjid ternyata ngga lagi sakit apapun”. Ibuk melanjutkan
informasinya.
Dan dalam keadaan lebih kaget lagi
terucap olehku dalam hati, “Subhanallah,
bisakah aku seperti itu juga ketika Engkau memanggilku nanti?”
Setiap manusia pasti menginginkan surga Allah.
Semua orang ingin ‘dijemput’ dalam keadaan syahid.
Tapi tak ada jaminan apakah panggilan itu akan datang secara damai sesuai harapan kita.
Semuanya tergantung pada apa yang telah kita
lakukan, apa yang telah kita upayakan di dunia ini.
Kabar ini lah yang kupahami sebagai kasih sayang Allah; menegurku untuk bertaubat selagi masih diberi kesempatan
untuk bernafas.
Aku mulai
menghubung-hubungkan sebab-akibat antara prilaku kita dengan keadaan kita bahwa
segala sesuatunya tidak terjadi dengan ‘ajaib’. Contohnya; 1. kamu
terlambat bangun, akibatnya shalat subuh jadi ketinggalan ditambah bisa telat
kuliah, 2. kamu terlambat makan,
akibatnya bisa terkena
maag. Nah kalo terlambat tobat, tinggal ucapin salam aja sama penghuni neraka, ya kan?. *Iiihhh ngga kebayang
deh.
Aku sudah memakai
jilbab sejak di SMP tapi tak pernah faham fungsi aslinya.
Awalnya hanya ikut-ikutan kakak sepupu. Lalu menginjak dunia kuliah, aku mulai melihat banyak orang yang
berlomba-lomba mengkreasikan jilbabnya agar terlihat lebih cantik. Lagi-lagi
aku pun ikut-ikutan. Selanjutnya aku
mengenal alat ajaib yg bisa nutupin kekurangan di wajah; make up. Seperti biasa aku
juga ikut-ikutan. (*jangan ditiru ya,
ukhti. Hiks hiks)..
Tapi bagi mereka yang mendapat hidayah
Allah untuk mengikuti perintahnya pasti akan memahami hal ini: dengan hijab
kamu tak perlu ribet tutorial-an,
tak perlu ribet mendempul wajahmu, tak perlu ribet lagi memilih baju model bla
bla bla untuk jadi cantik, karena hijab
bisa bikin kamu cantik apa adanya baik dihadapan manusia maupun dihadapan Allah
SWT. Marilah kita semua terus belajar memperbaiki diri, cantik. ^^ Dimulailah
dari menutupi auratmu. Dengan sendirinya
kamu akan sadar untuk memperbaiki yang lain. Tak ada yang mau jadi temennya hellboy kan.??? Na’udzubillahiminzaliq. Semoga menginspirasi
^^


Tidak ada komentar:
Posting Komentar