BERPRESTASI BERSAMA HIJABMU
Inspiring Story by Meyda Syafira
Hijab memang tidak bisa menjadi pedoman untuk menyatakan seseorang apakah agamanya sudah sempurna atau belum. Akhlak yang baik menjadi yang utama dan sebaik-baiknya wanita adalah wanita yang menjaga diri dan memperbaiki diri, selalu meningkatkan wawasan dan kecerdasan diri. Ciri perbaikan salah satunya adalah dengan berjilbab/berhijab.
Meyda mengatakan fenomena yang terjadi saat ini adalah sebagian orang mengatakan bahwa menggunakan jilbab itu adalah sebuah pilihan. Namun pilihan hanyalah sekedar pilihan jika tidak ada action dan upaya untuk membenahinya. "Memakai Jilbab, Hijab atau Kimar sama sekali tidak membatasi kita untuk mengambil peranan pada apa saja objek yang kita minati, berhijab juga tak menghalangi kita untuk terus berprestasi," ungkapnya.
"Allah menciptakan kita dengan kewajiban, namun Allah juga melimpahkan kepada kita kenikmatan. Kita sebagai seorang wanita apabila saat kecil jika kita sholeha maka Allah akan bukakan pintu surga untuk ayah kita, saat dewasa dan kita menikah kita sempurnakan agama suami kita, dan saat kita menjadi ibu, surga pun ada di telapak kaki kita. Lalu kenapa saat memenuhi kewajiban kita untuk menutup aurat saja kita masih menimbang-nimbang untung ruginya??," tanya pemain film Ketika Cinta Bertasbih ini, kepada peserta seminar. Dijelaskannya, perintah memakai jilbab bagi wanita muslimah telah Allah firmankan dalam Al-Quran dan hadits rasul-Nya. Kedudukan mengenakan hijab dihukumi wajib sama kedudukannya dengan shalat, puasa, zakat, dan haji (bagi yang mampu). Apabila jilbab ini ditinggalkan oleh seorang wanita yang mengaku dirinya memeluk agama islam maka bisa mengakibatkan pelakunya terseret dalam salah satu dosa besar karena kedudukannya yang wajib maka bila ditinggalkan akan mendapatkan azab, laknat dan murka Allah SWT.
Meyda Safira yang juga mengemban pendidikan sebagai mahasiswi teknik salah satu universitas di Indonesia, pertama kali teguh menggunakan hijab pada tahun 2008. Ia mengungkapkan semenjak berhijab banyak prestasi yang diperolehnya, seperti menjadi mahasiswi teladan di kampus dan lolos audisi aktris dalam sinetron Ketika Cinta Bertasbih dan lulus dengan IPK tertinggi, penggunaan jilbab sama sekali tidak menurunkan indeks prestasi.
"Dengan berjilbab orang akan menghargai kita bukan sekedar fisik, namun melihat dari apa yang kita perbuat dengan prestasi kita. Tingkatkan kebanggaan kita sebagai seorang muslim dengan menggunakan jilbab, kenapa banyak orang yang malu memakai jilbab karena mereka belum membaca dan memahami sejarah kejayaan islam dan belum memahami jurnal teknis kita yakninya al-Quran," tuturnya dengan semangat saat memberikan materi seminar.
Lebih lanjut ia mengatakan sebagian orang juga mengatakan bahwa memakai jilbab adalah kuno dan terlihat seperti emak-emak pengajian. Justru di saat ini penggunaan hijab sudah dimodernisasi dan dikolaborasikan dengan fashion tentu masih dengan aturan dan sesuai dengan syari. "Mari kita tunjukkan betapa cantiknya wanita ketika dia telah memutuskan untuk mengenakan hijab, kita perlihatkan bahwa kecerdasan kita tidak akan berkurang karena hijab yang kita kenakan, kita buktikan bahwa justru dengan berhijab kita semakin terdorong untuk terus meningkatkan kwalitas diri. Kita tampakkan bahwa wanita yang berjilbab itu murah senyum, sopan dan elegan," terang Meyda.
Ia mengajak melalui hijab marilah kita akselerasikan diri untuk menjadi wanita sholeh agar banyak lahir generasi penerus seperti Moh. Al-fatih yang baru berusia 21 tahun mampu menaklukan Konstatinopel dimana zaman itu begitu susahnya benteng itu ditembus oleh siapapun. "Nabi muhammad bersabda sebaik-baiknya panglima perang adalah panglima perang yang bisa menaklukan konstatinopel, sebaik-baiknya prajurit perang adalah prajurit yang menaklukan konstatinopel," tuturnya.
Sumber : http://wawasanproklamator.com/berita/1509/meyda-safira-hijab-bukan-penghalang-untuk-berprestasi.html


Tidak ada komentar:
Posting Komentar