KAKIMU JUGA AURAT
Inspiring article from Dakwatuna.com
Artikel ini dikutip dari: http://www.dakwatuna.com/2012/07/10/21546/sepasang-kaos-kaki/#ixzz40op0MRa8
Inspiring article from Dakwatuna.com
Satu
kata itu cukup untuk menggambarkan keadaanku jika harus memakai benda itu ke
manapun aku pergi; 'ribet'. Selangkah dari rumahku pun sepasang benda itu selalu
“dipaksa” menghiasi kakiku.
Pernah
dalam hati aku bertanya, “Mengapa telapak kaki juga aurat? Bukankah
laki-laki sama sekali tidak tertarik dengan telapak kaki, Apa bedanya telapak
kaki dengan telapak tangan yang bebas dari predikat aurat?”
Dan
masih banyak kalimat pembenaran lainnya.
Aku
kesal dengan kakak perempuanku yang selalu mengingatkanku untuk memakai kaos
kaki ketika hendak keluar rumah.
“Jangan
lupa kaos kaki.”
“Hei…
kakimu itu aurat, harus ditutup!”
“Kakak
beliin kaos kaki baru nih, dipakai yaa.”
Kakak
perempuanku itu tidak pernah bosan mengingatkanku, kurang kerjaan kali ya? Ga
kok, kerjaannya banyak, tapi masih saja kekeuh mengingatkanku untuk hal
kecil seperti itu. Dia tau persis kapan waktunya aku keluar rumah, walaupun
saat itu dia lagi di dapur, eh taunya udah nunggu depan pintu rumah sambil
memasang senyumannya yang khas, “Jangan lupa kaos kakinya yaa…”
Waduh
kak, Ribet!
Dan
seperti saat ini, dia sudah melirikku dari tadi yang sedang bersiap-siap pergi,
hari ini aku halaqah di rumah teman sekolahku. Sebenarnya rumahnya tak terlalu
jauh dari rumahku. Lima menit cukup untuk berjalan ke rumahnya. Tapi lagi-lagi
pasti aku dipaksa memakai kaos kaki, karena itulah aku memilih memakainya
duluan daripada mendengar “perintah” kakak perempuanku terlebih dahulu.
Kuambil
sepasang kaos kaki, lalu memakainya.
“Waah…
adik kakak tambah cantik deh, kalau pakai kaos kaki,” ujarnya.
“Maksa
banget, ga nyambung tauu, cantik itu di wajah bukan di kaki!”
Kakakku
tersenyum lalu mencubit pipiku.
Sehabis
halaqah, aku berjalan menuju rumahku, tapi di perjalanan kata-kata Murabbi-ku
it terus berputar berulang-ulang di benakku. Sungguh membekas dan menjawab
permasalahanku mengenai kaos kaki ini.
Setelah
Murabbi ku menyampaikan materi tadi, aku telah mengazzamkan pada hatiku untuk
istiqamah menutupi kakiku ke manapun aku pergi, walaupun hanya sejengkal dari
rumahku.
Murabbiku
menjelaskan tentang persyaratan apa saja yang harus dipenuhi sehingga jilbab sah untuk dipakai. Salah satunya ialah
busana yang tidak menampakkan betis/kaki atau celana panjang yang membentuk
kakinya, dan kedua telapak kaki pun harus ditutup.
“Kaki
juga aurat, aurat yang sering diabaikan oleh kaum wanita, tidak sempurna
istilah 'menutup aurat' itu jika melakukannya hanya setengah-setengah?
Lagipula bila kita shalat, kita mesti menutup kaki, karena jika terlihat, hukum
shalat jadi tidak sah. Apakah kita rela dibakar api neraka hanya karena
menganggap ringan akan hal ini?”
Kata-kata
itu terhujam di hatiku. Benar kata beliau, bahwasanya seorang muslimah itu
harus berhijrah secara kaffah, jangan setengah-setengah. Dalam segala aspek
kehidupannya. Salah satunya dalam melaksanakan perintah menutup aurat ini.
Murabbi
ku melanjutkan,
“Apakah
yang akan terdetik di hati kita apabila ada seorang lelaki yang menegur: “kaki
juga aurat, tidakkah kamu mengetahuinya wahai wanita…”,
Apakah
yang terlintas di hati dan pikiran kita? Malu? Karena lelaki juga mengetahui
batas aurat seorang wanita tetapi kita tidak sadar atau pura-pura tidak tahu akan
aurat kaki kita?”
Kami
yang ada di halaqah jadi terdiam kala itu. Ya, benar. Setiap jengkal dari
anggota tubuh wanita memiliki daya tarik yang sangat kuat, tak terkecuali “Si
telapak kaki”.
Kaki
adalah bagian dari aurat muslimah. Tapi banyak yang masih kurang menyadarinya,
sehingga bagian kaki antara betis sampai ujung kaki masih di tampakkan. Padahal
dalam ayat tentang aurat sudah jelas bahwa yang boleh tampak itu hanya MUKA dan TELAPAK TANGAN.
Untuk
seluruh muslimah... yuk kita sempurnakan hijab untuk menyempurnakan cinta kita padaNya.
Artikel ini dikutip dari: http://www.dakwatuna.com/2012/07/10/21546/sepasang-kaos-kaki/#ixzz40op0MRa8


Tidak ada komentar:
Posting Komentar